Khiyar

Pengertian Khiyar

Pengertian khiyar menurut ulama fiqh adalah[1]

 

“Suatu aqid yang menyebabkan aqid memiliki hak untuk memutuskan haknya, yaitu menjadikan atau membatalkannya baik khiyar syarat, ‘aib, atau ru’yah, dan hendaklah memilih di antara dua barang jika khiyar ta’yin.”

 

Secara bahasa khiyar berarti pilihan. Dalam transaksi jual beli pihak pembeli maupun penjual memiliki pilihan untuk menentukan apakah mereka betul-betul akan membeli atau menjual, membatalkannya dan atau menentukan pilihan di antara barang yang ditawarkan.

Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, “Khiyar adalah hak pilih bagi penjual dan pembeli untuk melanjutkan atau membatalkan akad jual-beli yang dilakukannya.

  1. A.    Pembagian Khiyar

Pembagian khiyar sangat beragam pengelompokannya dan para ulama berbeda pendapat dalam membagi khiyar.

Ulama Malikiyah[2] berpendapat bahwa khiyar majlis itu batal dan membagi khiyar menjadi dua bagian

  1. Khiyar at-taammul (melihat, meneliti), khiyar secara mutlak
  2. Khiyar naqish (kurang), apabila terdapat kekurangan atau ‘aib pada barang yang dijual (khiyar al-hukmy).

 

Ulama Syafi’iyah[3] berpendapat bahwa khiyar terbagi menjadi dua

  1. Khiyar at-tasyahi, khiyar yang menyebabkan pembeli memperlama transaksi sesuai dengan seleranya terhadap barang, baik dalam majlis ataupuan syarat.
  2. Khiyar Naqishah, khiyar yang disebabkan adanya perbedan dalam lafazh atau adanya kesalahan dalam perbuatan atau adanya penggantian.

 

Ulama Hanabilah membagi khiyar menjadi delapan[4] macam. Sedangkan ulama Hanafiyah membagi khiyar dalam tujuh belas[5] bagian.

 

Secara umum, khiyar masyhur dibagi menjadi tiga

  1. 1.      Khiyar Majlis

Majlis berasal dari fi’il madhi ” jalasa” yang berarti duduk kemudian dirubah ke isim makan “majlis” yang berarti tempat duduk. Tempat duduk tersebut dapat dijabarkan lagi menjadi tempat transaksi. Jadi, khiyar majlis adalah khiyar yang dilakukan pada satu tempat. Mauqud ‘alaih (barang) menjadi sah milik penjual atau pembeli ketika keduanya sudah berpisah. Batasan satu tempat tersebut menurut jumhur ulama berdasarkan adat.

Seperti kejadian berikut. Ronald penjual buku. Fagundez pembelinya. Di toko Ronald sudah ada tulisan, “Barang tidak boleh dikembalikan sesudah meninggalkan lokasi toko”. Dengan ketentuan di atas, jika Fagundez jadi membeli buku maka Ronald sudah tidak bertanggung jawab terhadap buku tersebut ketika Fagundez meninggalkan toko dan buku tersebut sepenuhnya milik Fagundez. Jika Fagundez sempat memilih buku dan akhirnya tidak jadi membeli karena tidak sepakat harga atau lainnya, maka buku tersebut tetap milik Ronald dan ia berhak menjual buku tersebut kepada orang lain.

Hadis Nabi[6]

Dari Ibnu Umar ra, dari Rasulullah saw bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila ada dua orang melakukan transaksi jual beli, maka masing-masing dari mereka (mempunyai) hak khiyar, selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul atau salah satu pihak memberikan hak khiyarnya kepada pihak yang lain. Namun jika salah satu pihak memberikan hak khiyar kepada yang lain lalu terjadi jual beli, maka jadilah jual beli itu, dan jika mereka telah berpisah sesudah terjadi jual beli itu, sedang salah seorang di antara mereka tidak (meninggalkan) jual belinya, maka jual beli telah terjadi (juga).” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 332 no: 2112, Muslim 1163 no: 44 dan 1531, dan Nasa’i VII: 249).

Dan haram meninggalkan majlis kalau khawatir dibatalkan:

Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari datuknya bahwa Rasulullah saw bersabda, “Pembeli dan penjual (mempunyai) hak khiyar selama mereka belum berpisah, kecuali jual beli dengan akad khiyar, maka seorang di antara mereka tidak boleh meninggalkan rekannya karena khawatir dibatalkan.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 2895, ‘Aunul Ma’bud IX: 324 no: 3439 Tirmidzi II: 360 no: 1265 dan Nasa’i VII: 251).

Imam Syafi’i berkata,”Setiap dua orang yang melakukan jual beli pada zaman dahulu dengan cara jatuh tempo, utang, menukar atau dengan cara yang lainnya, dimana keduanya melakukan hal tesebut dengan dasar suka sama suka, keduanya tidak berpisah dari tempat berdiri atau duduknya dimana keduanya melakukan transaksi jual beli itu. Jika keduanya dalam posisi demikian. Maka diperbolehkan bagi masing-masing untuk mrmbatalkan jual belinya. Setiap mereka wajib melakukan transaksi penjualan pada tempat dimana keduanya melakukan transaksi jual beli, atau jual beli yang dilaksanakan dengan cara khiyar. Maka, sesungguhnya penjualan itu ditetapkan dengan adanya perpisahan atau dengan cara khiyar.”

Dari pendapat Imam Syafi’i di atas dapat dirumuskan syarat-syarat khiyar majlis

  1. Dengan dasar suka sama suka atau rela dengan aqad tersebut.
  2. Keduanya belum berpisah dari tempat transaksi.

2.  Khiyar Syarat

Khiyar Syarat adalah khiyar yang terjadi dengan ketentuan kesepakatan ‘aqid dalam menentukan batas waktu untuk meneruskan atau membatalkan jual beli.

Pengertian khiyar syarat menurut  ulama fiqh

“Suatu keadaan yang membolehkan salah seorang yang akad atau masing-masing yang akad atau selain kedua pihak yang akad memiliki hak atas pembatalan atau penetapan akad selama waktu yang ditentukan.”

Seperti contoh. Rudi mempunyai showroon mobil. Toni akan membeli mobil  dari showroom Rudi. Setelah negoisasi, disepakati bahwa Toni boleh membawa mobil tersebut selama tiga hari dengan jaminan sertifikat rumah untuk dicoba dan belum membelinya. Selama masa khiyar tiga hari, Rudi tidak boleh menjual mobil yang dibawa toni kepada orang lain. Ketika jatuh tempo, jika Toni jadi membeli mobil maka aqad bisa terjadi. Jika tidak jadi, Toni berhak mengembalikan mobil tersebut kepada Rudi tanpa ada biaya apapun.

Dari Ibnu Umar ra, dari Nabi saw Beliau bersabda, “Sesungguhnya dua orang yang melakukan jual beli mempunyai hak khiyar dalam jual belinya selama mereka belum berpisah, atau jual belinya dengan akad khiyar.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 326 no: 2107, Muslim III: 1163 no: 1531 dan Nasa’i VII: 248).

 

 

Berakhirnya masa khiyar

Khiyar syarat itu paling lama adalah 3 hari semenjak mengikat syarat, baik itu disyaratkan dalam aqad ataupun majelis akad. Lain halnya jika syarat yang disebutkan adalah secara mutlak atau persyaratan tersebut melebihi 3 hari, maka aqadnya tidak sah Pernyataan ini berdasarkan hadis Nabi

اذا بايعـت فـقـل : لا خـلا بـة و لى الخـيار ثـلا ثـة ايـام   رواه البخارى
” Jika kamu menjual maka kataakanalah : Tidak ada kecurangan. Dan saya memiliki khiyar selama tiga hari”. H. R. Bukhori.

 

أَنْتَ بِالْخِيَارِ فِيْ كُلِّ سِلْعَةٍ ابْتَعْتَهَا ثَلَاثَ لَيَالٍ

“Engkau boleh khiyar pada segala macam barang yang telah engkau beli selama tiga hari tiga malam” (HR.Baihaqi dan Ibnu Majah)

Ulama Hanafiyah dan Ja’far berpendapat bahwa waktu tiga hari adalah waktu cukup dan memenuhi kebutuhan seseorang. Dengan demikian, jika melewati tiga hari, jual beli tersebut batal. Akan tetapi akad tersebut dapat menjadi shahih, jika diulangi dan tidak melewati tiga hari. Adapun menurut Ja’far, jika diulangi dan tidak melewati tiga hari, tidak dapat menjadi akad yang shahih

Imam Syafi’i[7] berpendapat bahwa khiyar yang melebihi tiga hari membatalkan jual beli, sedangkan bila kurang dari tiga hari, hal itu adalah rukhshah (keringanan).

Menurut Imam Hanabilah, khiyar diperbolehkan menurut kesepakatan orang yang akad, baik sebentar atau lama. Hal itu didasarkan antara lain pada pernyataan Ibn Umar yang membolehkan khiyar lebih dari sebulan.[8] Selain itu, khiyar syarat sangat berkaitan dengan orang yang memberikan syarat. Oleh karena itu, diserahkan kepada orang yang melakukan akad.[9]

Ulama Malikiyah[10] berpendapat bahwa khiyar syarat diperbolehkan sesuai dengan kebutuhan. Buah-buahan yang akan rusak sebelum tiga hari, diperbolehkan khiyar kurang dari tiga hari. Golongan ini beralasan bahwa hakikatnya khiyar ditujukan untuk menguji barang yang dijual sehingga berbeda-beda bagi tiap-tiap barang.

  1. 3.      Khiyar Aib

 

“Keadaan yang membolehkan salah seorang akad yang memiliki hak untuk membatalkan aqad atau menjadikannya ketika ditemukan aib (kecacatan) dari salah satu yang dijadikan alat tukar-menukar yang tidak diketahui oleh pemiliknya waktu akad.”

 

Dengan demikian, penyebab khiyar aib adalah adanya cacat dan barang yang dijualbelikan (mau’qud ‘alaih) atau harga (tsaman), karena kurang nilainya atau tidak sesuai dengan maksud atau orang yang akad tidak meneliti kecacatannya ketika akad.

 

Ketetapan adanya khiyar mensyaratkan adanya barang pengganti, baik diucapkan secar jelas ataupun tidak, kecuali jika ada keridaan dari yang akad.

 

 

  1. B.     Hikmah Khiyar
    1. Membuktikan dan mempertegas adanya kerelan dari pihak-pihak yang terikat dengan perjanjian.
    2. Lebih berhati-hati dalam membeli.
    3. Terhindar dari unsur penipuan

 


[1] Wahbah Al-Juhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa adillatuha, juz IV, hal 250

[2] Ibn Rusyd, Bidayah Al-Mujtahid wa Al-Muqtashid, juz II

[3] Hasyi’ah li Asy-Syarqawi, juz II, hal. 40-50

[4] Kasyf al-Qana, juz III, hal. 166-224

[5] Ibn Abidin, Radd Al-Mukhtar, juz IV, hal. 47

[7] Al-Kasani, Op.Cit., juz V, hal 174

[8] Al-Jaila berpendapat bahwa hadis tersebut gharib sekali, Lihat Nusb Ar-Rayah, juz IV, hal. 8

[9] Loc, Cit

[10] Ibn Rusyd., Op.Cit,. jz II, hal. 2-7

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s